Category Archives: Ponsel

Evolusi Nokia®

Nokia Corporation adalah produsen peralatan telekomunikasi terbesar di dunia serta merupakan perusahaan terbesar di Finlandia. Kantor pusatnya berada di kota Espoo, Finlandia, dan perusahaan ini paling dikenal lewat produk-produk telepon genggamnya. Nokia memproduksi telepon genggam untuk seluruh pasar dan protokol utama, termasuk GSM, CDMA, and W-CDMA (UMTS).

Kata Nokia berasal dari nama sebuah komunitas yang tinggal di sungai Emakoski di negara Finlandia Selatan. Nokia didirikan sebagai perusahaan penggilingan pulp oleh Fredrik Idestam pada tahun 1865. Perusahaan Karet Finlandia kemudian mendirikan pabriknya di kawasan sekitarnya pada awal abad ke-20 dan mulai menggunakan merek Nokia.

1982
Mobira Senator. Ponsel pertama Nokia dengan menggunakan jaringan NMT. Ponsel ini hanya dapat digunakan di dalam mobil.

1987
Mobira Cityman 900. Telepon genggam portabel Nokia masih dengan jaringan NMT.

1992
Nokia 101. Penggunaan handset pertama kali berbentuk "candy bar".

1992
Nokia 1011. Ponsel portabel digital dengan jaringan GSM

1994
Nokia 232. Ponsel pertama yang didukung layanan data, faks dan SMS.

1996
Nokia 9000 Communicator. Ponsel pertama lengkap dengan faks, kalender, email dan internet.

1996
Nokia 8110. Disebut juga Nokia pisang. Ini adalah ponsel pertama Nokia yang berbentuk slide.

1997
Nokia 3810. Ponsel pertama yang didisain khusus untuk konsumen Asia.

1998
Nokia 5100. Ponsel pertama dimana pengguna dapat mengubah-ubah chasing HP.

1998
Nokia 6110. Ponsel seri 6xxx pertama yang ditargetkan untuk kalangan bisnis. Ini juga model Nokia pertama dengan game di dalamnya, yakni Snake.

1998
Nokia 5110. Ponsel pertama dimana pengguna dapat memilih game. Ponsel ini terkenal dengan sebutan ‘HP sejuta umat’ karena lebih mudah dan lebih terjangkau oleh masyarakat.

1999
Nokia 8210. Ponsel fashion pertama Nokia yang diluncurkan bekerjasama dengan Kenzo

1999
Nokia 3210. Ponsel pertama dengan antena internal.

2001
Nokia 6310. Ponsel yang tahan banting dan simpel. Ini juga ponsel Nokia pertama yang memakai konektivitas bluetooth.

2001
Nokia 7650. Ponsel GSM dengan kamera yang terintegrasi dan seri 60 smartphone.

2002
Nokia 3650. Ini adalah ponsel pertama yang dilengkapi peralatan untuk mengambil video.

2003
Nokia 7200. Ponsel lipat (flip) pertama Nokia.

2003
Nokia 6108. Ponsel layar sentuh (touch screen) pertama Nokia.

2003
nokia n gage. hp buat para gamers

2004
Nokia 7610. Ponsel berkamera pertama dengan piksel berukuran mega.

2005
Nokia meluncurkan ponsel L’Amour Collection, yakni Nokia 7360, Nokia 7370, dan Nokia 7380, bagi kalangan ‘fashionista’. Disain produk ini memenangi penghargaan disain terbaik dari para Desainer Industri di Amerika tahun 2006.

2005
Nokia 8800. Disain Nokia pertama yang menggunakan stainless steel dan kaca.

2005
Nokia meluncurkan ponsel N Series, ponsel multimedia tingkat tinggi.

2005
N 90. Ponsel berkamera pertama di dunia yang dilengkapi dengan optik Carl Zeiss dan engsel menikung layaknya handycam.

2005
Nokia meluncurkan produk E Series, yang dikhususkan untuk para pebisnis.

2005
Nokia N 92. Ponsel pertama yang dilengkapi dengan DVB-H untuk melihat dan
merekam tayangan televisi.

2006
Nokia N 80. Merupakan handset pertama yang memiliki teknologi UPnP (Universal Plug and Play) yang memungkinkan pengguna dapat menggunakan UPnP sebagai remote control untuk swap konten via Wi-Fi di antara PC, perlengkapan audio dan TV.

2006
Nokia N95. Ini adalah telepon pertama Nokia dengan kemampuan GPS di dalamnya. Disain ponsel ini menerima penghargaan Red Dot pada tahun 2007.

2007
Nokia 1208. Ponsel ini didisain khusus untuk masyarakat yang tinggal di pedesaan dan terpencil. Ponsel ini terkenal dengan keawetannya.

2007
Nokia 7900 Prism. Ponsel pertama yang mengadopsi layar organik LED.

2007
Nokia N82. Ponsel yang dilengkapi dengan Xenon Flash. Dapat dipakai untuk mengambil gambar dalam kondisi sedikit cahaya.

2007
Nokia 3110 Evolve. Model ini menggunakan bio-cover yang 50 persen lebih materinya dari bahan yang dapat diperbaharui.

2008
Nokia membuat konsep ulang. Membuat ponsel berbahan daur ulang aluminium dari kaleng, chasing dari plastik botol minuman, dan karet keypad dari ban bekas.

2008
Nokia 5800 XpressMusic. Ponsel Nokia yang jago untuk soal musik dengan layar sentuh.

2008
Nokia E71. Ponsel Nokia teramping di dunia dengan keyped qwerty.

2009
N 97. Ponsel yang terhubung dengan internet setiap saat.

2010
Nokia X6. Nokia X6 dilengkapi dengan berbagai macam perangkat hiburan yang luar biasa, seperti dapat memutar lagu hingga 35 jam, memori internal 16GB, dan dapat memutar berbagai macam format musik digital. Sedangkan dari sektor kamera, Nokia X6 dilengkapi pula dengan layar berukuran 3,2 inci yang dibekali fitur touchscreen dan kamera beresolusi 5MP berlensa Carl Zeiss.

N8 dengan fasilitas 12MP camera
Nokia N8 sendiri memang layak jadi senjata andalan Nokia, antara lain berkat keunggulan kamera 12 megapiksel dengan Xenon flash dan kemampuan merekam video HD. Ponsel ini juga memudahkan akses pada situs jejaring yang sedang ngetren serta memiliki fasilitas Ovi Maps gratis.

Quote:

UPDATE
2011
Nokia E7

Nokia Memperkenalkan seri smartphone terbarunya ke pasaran Indonesia. Produk tersebut adalah E7, yang disebut-sebut sebagai “Communicator” generasi terbaru. Produk yang secara resmi baru beredar di pasaran pada awal 2011 itu merupakan ponsel dengan kombinasi layar sentuh dan keyboard Qwerty berdesain slide yang disisipkan di bawah layar.
Untuk komunikasi data dan konektivitas, dukungan 3G/HSDPA, WiFi, Bluetooth, sampai port USB untuk membaca data dari USB flash disk dan HDMI untuk menghubungan ponsel dengan layar beresolusi tinggi disediakan. Adapun pekerjaan seperti membuat dan mengedit dokumen serta mengedit file presentasi serta mempresentasikannya langsung, bisa dilakukan pada ponsel ini.

C7

X5

Advertisements

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Important Tips for Cell Phone Users

Ada Apa di Balik Pemblokiran BlackBerry?

Ternyata BlackBerry tak benar-benar aman dari penyadapan. Pemerintah AS bisa menyadapnya.

(VIVAnews)

Rencana berbagai negara di Timur Tengah dan Asia memblokir layanan BlackBerry kian hari kian meluas.

Uni Emirat Arab (UEA) pertama kali mengumumkan penutupan layanan ini mulai Oktober mendatang, kemudian menyusul Arab Saudi yang mengumumkan untuk memblokir layanan BlackBerry Messenger Jumat ini.

Kemudian isu ini terus bergulir ke negara-negara lainnya seperti India, Indonesia, Bahrain, Libanon dan Aljazair. Namun tak begitu banyak yang mengetahui cerita yang melatari awal rencana pemblokiran ini.

Seperti dilansir oleh situs berita AlJazeera, sebelum isu ini muncul, Uni Emirat Arab memang telah berusaha untuk menyadap layanan BlackBerry di negara itu. Seperti halnya negara-negara lain di dunia, UEA juga ingin bisa memonitor semua trafik komunikasi yang ada di wilayah mereka, termasuk yang menyebar melalui jaringan BlackBerry.

Menurut keterangan Thomas Shambler, seorang Editor Majalah Stuff di Dubai, pemerintah UEA pertama kali berusaha menjerat para pengguna BlackBerry dengan mengirimkan pesan SMS yang berbahaya di jaringan BlackBerry.

“Tahun lalu, Etislat (operator penyedia ponsel di UEA) mengirim pesan ke banyak pelanggan,” kata Shambler. Teks pesan yang menjanjikan peningkatan layanan, namun ternyata mengarahkan pelanggan untuk mengunduh software mata-mata alias spyware.

Namun, software itu ketahuan. Sehari setelah kejadian itu, RIM langsung mengeluarkan program tambalan yang bisa menghapus software mata-mata tadi. Upaya pemerintah UEA untuk memonitor para pengguna BlackBerry di UEA, langsung kandas.

Akhirnya, pemerintah UEA meminta RIM untuk menyediakan server lokal dan memberikan kendali yang lebih luas agar mereka bisa mengakses informasi-informasi, yang dienkripsi di jaringannya. Langkah itu kemudian diikuti oleh banyak negara lain.

Selama ini, trafik layanan ponsel BlackBerry di seluruh dunia memang langsung ditarik ke server RIM di Kanada atau Inggris. Pemerintah-pemerintah di negara yang mengijinkan layanan BlackBerry, tak bisa menyadap jaringan ini karena mereka tak memiliki server pengontrol di masing-masing negara.

Namun, menurut RIM, informasi yang ditransmisikan melalui layanan BlackBerry memang dienkripsi sedemikian rupa sehingga RIM sendiri tak mampu mendekrip (memecahkan kode enkripsi) dan membacanya.

Tak heran bila kemudian layanan BlackBerry menjadi pilihan komunikasi bagi banyak lembaga pemerintahan di seluruh dunia, termasuk Federal Bureau of Investigation (FBI) di AS.

Selain itu, pemerintah AS juga merupakan salah satu pihak pengguna BlackBerry terbesar. Pada 2005 saja, pemerintah AS menggunakan 100 ribu perangkat BlackBerry untuk staf-stafnya. Tak hanya itu, BlackBerry juga menjadi andalan bagi para wartawan dan para aktivis hak asasi manusia di berbagai negara.

Tapi, benarkah konsumen benar-benar dapat mengandalkan keamanan data pribadi mereka di layanan BlackBerry. Ternyata, tidak juga. Menurut laporan AlJazeera, RIM membolehkan beberapa negara untuk bisa melihat trafik informasi yang mengalir di layanan itu. Beda kasus dengan negara-negara Arab yang siap memboikot RIM.

“Sepertinya negara-negara kecil seperti UEA tak akan diberikan kemampuan untuk melakukan hal yang sama,” kata Ian Brown, Senior Fellow di Oxford Internet Institute.

Oleh karenanya, pemerintah UEA juga menuduh RIM tidak adil, karena menganggap RIM tidak memberikan hak penyadapan kepada negaranya, sebagaimana RIM memberikannya kepada pemerintah AS.

Di lain pihak, kepada Reuters, Mark Rasch, bekas Kepala Unit Kejahatan Komputer di Departemen Kehakiman AS, mengatakan bahwa pemerintah AS memang mampu menyadap informasi yang berseliweran di BlackBerry karena pemerintah AS memang memiliki teknologi yang memungkinkan hal itu.

“Kemampuan untuk menyadap berbagai alat komunikasi adalah bagian dari kegiatan pengawasan dan intelijen serta penegakkan hukum di seluruh dunia,” katanya.

Oleh karenanya, pelanggan BlackBerry tak bisa lagi menganggap bahwa layanan ini 100 persen aman. Tapi, apakah mayoritas pelanggan BlackBerry begitu peduli tentang masalah penyadapan? Boleh jadi mereka tak beda dengan para pelanggan BlackBerry di UEA.

“Para pelanggan BlackBerry di sana tak begitu ambil pusing dengan masalah penyadapan,” kata Thomas Shambler.

Mereka lebih khawatir kalau layanan BlackBerry mereka diblokir, bagaimana nantinya mereka bisa mengirim email, mengirim pesan instan ke orang-orang yang mereka kenal, atau bagaimana mereka bisa terus terhubung dengan rekan-rekan mereka. (sj)

• VIVAnews

INDONESIA….



The Republic of Indonesia, the world’s fourth most populous nation, has 203 million people living on nearly one thousand permanently settled islands. Some two-to-three hundred ethnic groups with their own languages and dialects range in population from the Javanese (about 70 million) and Sundanese (about 30 million) on Java, to peoples numbering in the thousands on remote islands. The nature of Indonesian national culture is somewhat analogous to that of India multicultural, rooted in older societies and interethnic relations, and developed in twentieth century nationalist struggles against a European imperialism that nonetheless forged that nation and many of its institutions. The national culture is most easily observed in cities but aspects of it now reach into the countryside as well. Indonesia’s borders are those of the Netherlands East Indies, which was fully formed at the beginning of the twentieth century, though Dutch imperialism began early in the seventeenth century. Indonesian culture has historical roots, institutions, customs, values, and beliefs that many of its people share, but it is also a work in progress that is undergoing particular stresses at the beginning of the twenty-first century.

The name Indonesia, meaning Indian Islands, was coined by an Englishman, J. R. Logan, in Malaya in 1850. Derived from the Greek, Indos (India) and nesos (island), it has parallels in Melanesia, “black islands”; Micronesia, “small islands”; and Polynesia, “many islands.” A German geographer, Adolf Bastian, used it in the title of his book, Indonesien, in 1884, and in 1928 nationalists adopted it as the name of their hoped-for nation.

Most islands are multiethnic, with large and small groups forming geographical enclaves. Towns within such enclaves include the dominant ethnic group and some members of immigrant groups. Large cities may consist of many ethnic groups; some cities have a dominant majority. Regions, such as West Sumatra or South Sulawesi, have developed over centuries through the interaction of geography (such as rivers, ports, plains, and mountains), historical interaction of peoples, and political-administrative policies. Some, such as North Sumatra, South Sulawesi, and East Java are ethnically mixed to varying degrees; others such as West Sumatra, Bali, and Aceh are more homogeneous. Some regions, such as South Sumatra, South Kalimantan, and South Sulawesi, share a long-term Malayo-Muslim coastal influence that gives them similar cultural features, from arts and dress to political and class stratification to religion. Upland or upriver peoples in these regions have different social, cultural, and religious orientations, but may feel themselves or be perforce a part of that region. Many such regions have become government provinces, as are the latter three above. Others, such as Bali, have not.


%d bloggers like this: